Berita NTB

Sejarah Masuknya Islam di NTB Lewat Gowa Tallo

By  | 

ntbtimes-com-sejarah-masuk-islam-di-ntbNTB Times, Lombok-Bulan Budaya Lombok Sumbawa (BBLS) 2016 diisi berbagai macam kegiatan. Salah satunya diskusi dan seminar kebudayaan “Menelisik Sejarah dan Jejak Islam Awal di Nusa Tenggara Barat”.

Diskusi yang digelar Disbudpar NTB ini bertujuan untuk membuka pandangan dari para ahli perihal masuknya Islam yang kini menjadi perekat masyarakat.

Sejumlah budayawan NTB berkumpul pada Sabtu (10/9/2016). Salah satu narasumber yakni Anhar Gonggong yang juga dosen sejarah politik di Lemhannas. Dalam pemaparan awalnya disebutkan bahwa semua pihak tidak boleh mengacuhkan sebuah sejarah jika ingin mengetahuinya.

“Dewasa ini banyak yang salah paham bahwa sejarah hanya untuk masa lampau. Itu salah karena keberadaan kita sekarang adalah karena dasar dan itu di masa lampau,” kata Anhar di Gedung Bank Indonesia Jalan Pejanggik, Kota Mataram.

Terkait dangan proses masuknya Islam di NTB dikatakannya bisa berasal dari mana saja. Bisa dari Jawa, Goa, atau dari Arab langsung. Faktanya Islam menjadi masyoritas agama di Indonesia.

“Memahami sejarah jangan mengatakan kita yang paling tepat dan benar. Karena ada orang lain menemukan fakta lain,” tutur dia.

Lombok atau NTB dijelaskan Anhar pastilah mempunyai keunikan tersendiri yang menjadi pembeda dengan daerah yang lain. Untuk menemukannya kata Anhar perlu untuk digali. Karena ibarat sebuah sumber yang tidak akan mengatakan dengan sendirinya apa yang kita butuhkan.

“Karena Anda tidak pernah menggali. Ada banyak universitas kenapa tidak anda dorong kesitu. Saya memandang bahwa kaum intelektual harus buka perhatian, bahwa anda membuka dan sumber bahwa itu dari sejarah. Jangan ragu mengungkap berdasar sumber bahwa anda berbeda dari yang lain. Sumber tidak akan bicara kalau tidak disuruh bicara. Seperti buku berasal dari sumber dan jadilah buku ini,” urai Anhar.

“Anda tidak akan mengenal diri Anda jika orang Bali tidak datang kesini. Ada satu hal yang saya ingin garisbawahi yaitu jangan ada kebencian apapun yang anda temukan dalam sejarah,” imbuh dia.

Anhar menyebutkan bahwa penemuan yang diluar dugaan ketika menemukan fakta sejarah harus disikapi dengan kepala dingin. Oleh karenanya seorang peneliti harus bisa bersikap obyektif.

“Apa yang harus dipersoalkan jika faktanya tidak bagus. Jangan ada dendam. Dia melakukan tugasnya jika harus membunuh orang tua anda. Saya hargai. Tidak ada salahnya. Contoh ini saya katakan. Jika saat itu saya dengan rasa benci maka jawaban saya berbeda. Tapi tidak selesai dengan itu,” kata Anhar hal ini merujuk tentang banyaknya pertentangan sejarah Islam di NTB.

Bagi dia, dalam hal mengungkap sejarah selain dengan pikiran jernih, diikuti pula dengan metodologi dan teori. Proses Islam jadi pemersatu ada faktanya.

“Di Bima orang bergerak melawan Belanda. Andaikata bukan Islam belum tentu kita bersatu. Kita ungkap dengan benar, interpretasi yang baik. Buku sejarah adalah mengenal diri kita. Tidak mungkin kita mengenal diri kita tanpa 3. Bagaimana anda tahu Indonesia bisa bersatu dengan kemajemukannya, dan kekayaan alam melimpah tanpa tau sejarah, antropologi dan etnologi, serta ilmu bumi atau geografinya,” tutup dia.

Sementara Profesor Joko Suryo yang juga dosen UGM mengawali pemaparannya melalui keunikan dan khasnya Islam Nusantara Apa itu islam di nusantara, apa konsepnya tersendiri?

“Islam nusantara lahir gara-gara terjadi revolusi di Timur Tengah yang penuh konflik. Islam dituduh sebagai teroris lalu muncul gagasan untuk meng-counternya,” kata Joko.

Indonesia kata Joko mengklaim Islam yang berbeda yaitu Islam moderat dan suka damai. Karena di Indonesia telah menjadi pilar juga sebagai perekat.

“Islam sudah menjadi ideologi sebelum modern seperti terbentuknya kerajaan Islam di Indonesia. Ciri Islam di Indonesia bertransformasi ke organisasi sosial seperti NU, Muhammadiyah, yang menjadi kekuatan dan di tempat lain tidak ada bahkan menjadi partai. Di tempat lain hanya sebagai agama. Islam menjadi pangkal hubungan kepada Allah dan sesama manusia,” kata Joko.

Kedatangan Islam di Indonesia setelah perang salib, jadi Islam datang dengan damai. Islam di Indonesia masuk dengan akulturasi. (NT01)

Sumber : detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *