Berita Internasional

Subhanallah, Pemuda Lombok ini Mengharumkan NTB di Bumi Para Nabi

By  | 

Hasil gambar untuk Ahmad Musyaddad

Mataram, Keluarga mana yang tidak bangga melihat salah satu dari keluarganya  yang bisa bekerja dan mengabdi di Masjidil Haram. Rasa bangga dan bahagia dirasakan  keluarga almarhum Husni dan  Hj Masturiah. Dari empat orang anaknya, salah satu dari mereka menjadi penerjemah resmi khutbah di Masjidil Haram Makkah yang sudah dilakoninya  sejak tahun 2014 lalu.

Ismul Hidayat kakak kandung Ahmad Musyaddad menuturkan adik bungusunya itu  lahir  tahun 1985 tepatnya di Lingkungan Kamasan Kelurahan Monjok Kecamatan Selaparang Kota Mataram. Mereka terlahir empat bersaudara dan lahir dari pasangan keluarga  yang pas-pas. Namun karena dukungan dan semangat serta pola pendidikan dari orang tua yang mengantarkan mereka menjadi orang yang sukses.  Ismul Hidayat sendiri  menjadi anggota DPRD Kota Mataram termuda priode 2014-2019.

Sejak kecil   Musyaddad dikenal tekun  dan semangat belajarnya tinggi. Setelah  menyelesaikan pendidikan dasar di SDN 22 Mataram yang kini sudah berubah menjadi SDN 13 Mataram, Musyaddad melanjutkan pendidikannya di Ponpes Nurul Hakim Kediri Lombok Barat. Selama di ponpes, Musyaddad menempuh pendidikan MTs sampai tamat Aliyah.

Musyaddad  kemudian mendapatkan  beasiswa pendidikan di kampus LIPIA Jakarta, dimana kampus ini adalah Cabang dari Universitas dari Arab Saudi.” Adik saya ini memang azamnya dari sejak kecil selalu tinggi terhadap ilmu agama,” tutur Ismul Senin lalu(19/9).

Usia menamatkan pendidikan S1 di LIPIA, selanjutnya  Musyaddad  kembali mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan study magisternya. Pada kesempatan ini,dia  menempuh S2 di  Universitas Ibnu Khaldun di Bogor. Pada tahun 2014 adiknya mendapatkan informasi  pencarian  penerjemah untuk ditugaskan  di Masjidil Haram. Tugasnya itu  menterjemahkan khutbah-khutbah para khatib yang ada di Masjidil Haram kedalam bahasa Indonesia.    Orang Indonesia  banyak yang datang ke Makkah dan melaksanakan salat Jum’at di Masjidil Haram.

Musyaddad lalu  mengikuti seleksi menjadi penerjemah itu. Seleksinya sangat ketat dan akhirnya lulus.Informasi yang diterima Ismu, hanya ada empat orang  penterjemah yang berasal dari Indonesia.” Mereka hanya empat orang yang lulus, salah satunya adika saya ini,” tuturnya.

Sampai saat ini kurang lebih sudah dua tahun  Musyaddad  menjadi penerjemah. Disamping  itu, dia  juga sedang menyelesaikan studi doktornya di kampus Ibnu Khaldun. Selain menjadi penterjemah,  Musyaddad juga sering menjadi pemandu para jama’ah Indonesia apalagi dari Mataram atau Lombok yang melaksanakan umroh. Hal ini dilakukan untuk mempermudah orang-orang Indonesia saat berada di Makkah

Ismul mengaku bangga  memiliki saudara yang bisa bermanfaat untuk seluruh umat. Kalau mengingat masa kecil dulu, mereka tidak pernah berpikir bisa menjadi seperti ini. Tetapi karena perjuangan keras dan didikan dari orang tua sehingga mereka semua bisa menjadi orang sukses.” Sejak kecil kami sudah ditanamkan semangat untuk kerja keras, kami tidak diberikan kesempatan untuk bersenang, dimanja oleh orang tua,” tuturnya.(Zulfahmi/radarlombok).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *