Berita Nasional

Mampukah Tol Trans Jawa Mengurangi Kemacetan di Pantura?

By  | 

ntbtimes-com-jalan-tolNTB Times, Semarang- Pembangunan jalan tol Trans Jawa dengan panjang 661 KM mulai dari Merak hingga Surabaya ditargetkan akan selesai pada 2018. Mega proyek yang dicanangkan pemerintah ini mempunyai tujuan utama yaitu mengurai kemacetan di Jalan Pantura.

Berbagai inovasi juga dilakukan dalam jalan tol ini. PT Jasa Marga sebagai pengelola mempunya strategi baru. Untuk mempercepat transaksi, ke depan penguna tol diharuskan memiliki e-toll card. Dua tahun ke depan direncanakan tidak ada lagi transaksi di pintu tol karena pembayaran tol akan langsung dipotong dengan sensor e-toll. Saat ini sudah beberapa tol memakai e-toll card seperti di Tol Pejagan.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat pernah menyampaikan bahwa ruas-ruas tol baru, termasuk tol yang fungsional bisa mengurangi kepadatan lalu lintas hingga 40 persen. Karena faktanya kepadatan Jalan Pantura sudah menggila sehingga pemerintah meng-claim bahwa Jalan Tol solusi mengurangi macet.

Ada beberapa hal yang perlu ditilik lagi oleh pemerintah. Ternyata pembangunan jalan tol juga menghadirkan masalah-masalah yang pelik. Pertama adalah pembebasan lahan. Masyarakat sekarang sudah mulai “pintar” dengan tanah yang dimilikinya. Tidak ingin menjual terlalu cepat tanahnya sehingga akan berlarut-larut. Hal ini dikarenakan semakin lama tanah terjual maka ganti ruginya akan semkin tinggi.

Kedua, biaya pembangunan jalan tol Trans Jawa ini menggelontorkan biaya yang fantastis. Data BPJT pada Juli 2016 tercatat Rp 50,17 triliun. Biaya ini meliputi konstruksi, pembebasan lahan, dll.

Selain itu apakah tol Trans Jawa apakah akan benar-benar mengurai kemacetan secara siginifikan? Kalau melihat bagaimana kemacetan parah di Brexit pada lebaran 2016, maka sebenarnya ada potensi kemacetan serupa terjadi di jalan tol. Padahal tujuan utama jalan tol adalah jalan yang bebas hambatan.

Nampaknya perlu dikaji lagi supaya jalan tol ini tidak sekedar memindahkan kemacetan dari Jalan Pantura ke Jalan Tol Trans Jawa. Secara alami pengendara akan memilih jalan yang nyaman dan cepat. Semua ini ada di jalan tol. Jika semua pengendara berpikiran demikian maka bukan tidak mungkin pemindahan kemacetan akan segera terealisasi dari jalan raya ke jalan tol.

Hal menarik yang perlu dilakukan adalah optimalisasi kendaraan umum. Tentunya kendaraan umum yang memadai. Dua sisi penting yang harus berjalan beriringan adalah infrastruktur jalan yang baik dan kendaraan umum yang baik. Masyarakat selama ini lebih memilih memakai kendaraan pribadi karena infrstruktur jalan yang tidak memadai dan kendaraan umum yang tidak recommended.

Perspektif lain yang selayaknya diperhatikan oleh masyarakat pengguna jalan adalah menurunkan ego untuk memakai kendaraan pribadi. Melihat dari negeri Sakura, pemerintah Jepang memiliki kebijakan yang sangat baik dalam rangka mengalihkan pengguna kendaraan pribadi agar beralih ke angkutan transportasi umum massal. Aturan yang ketat dan kesadaran masyarakat yang tinggi sehingga program tersebut berhasil. Indonesia juga harus bisa seperti itu jika ingin merasakan bagaimana transportasi yang nyaman, cepat, dan manusiawi.(NT01)

Moh Nur Sholeh
Pengamat Infrastruktur Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *