Daerah

Peringati HARDIKNAS, Bem FKIP UNTAN Suarakan Masalah dan Kondisi Dunia Pendidikan

By  | 

Aksi Damai Mahasiswa FKIP UNTAN 

NTB Times, Pontianak – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FKIP UNTAN menggelar aksi damai dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Bundaran Degulist Untan pada Kamis (2/5/2019). Sore Pukul 15.30 Wib.

Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam keluarga besar mahasiswa FKIP Untan ini silih berganti menyampaikan orasi dalam menyuarakan aspirasinya terkait potret pendidikan.

Dalam aksinya, secara garis besar yang menjadi sorotan mahasiswa yakni tentang porsi anggaran pendidikan, kurikulum yang _Sentralistik_ hanya sesuai pengetahuan pemerintah tanpa memperhatikan kondisi maupun kebutuhan masyarakat terutama di daerah, kualitas fisik hingga kualitas tenaga pendidik, kesejahteraan guru dan kurangnya pemerataan kesempatan mengeyam pendidikan.

Tuntutan mahasiswa yang ditujukan kepada pemerintah sekarang dan akan datang ialah meninjau ulang kebijakan tentang pemerataan guru dan peningkatan kualitas guru, berkomitmen untuk segera mensejahterakan guru honorer, menjamin Wajib Belajar 12 Tahun dengan payung hukum yang jelas, mematuhi amanat konstitusi untuk mengalokasikan dana APBN maupun APBD sebesar 20% untuk pendidikan dan melakukan pemerataan sarana prasarana pendidikam serta komitmen untuk memperioritaskan nilai-nilai karakter di sekolah dengan mengimplementasikan kebijakan yang lebih konkrit.

Korlap Aksi, Syarifah Runika mengatakan bicara tentang pendidikan banyak aspek yang perlu diperhatikan dan menjadi bahan kajian mulai dr guru, peserta didik, sarana prasarana, moral, dan lainnya.

” Guru honorer sampai saat ini masih blm jelas statusnya, masih rendah gajinya, dan mendapat perlakuan tidak menyenangkan layaknya pembantu sekolah ” Ujarnya

Menteri Kajian dan Aksi Propaganda BEM FKIP Untan ini juga menuturkan bahwa saat ini diantara peserta didik sudah tidak hormat terhadap guru.

” Siswa sekarang ada yang berani menantang bahkan berbuat kasar thdp guru, ini merupakan indikasi menurunnya kualitas moral generasi bangsa ” Bebernya

Syarifah melanjutkan wajib belajar 12 tahun juga sampai saat ini blm jelas status nya, padahal pasal 31 ayat 1-5 membahas jelas ttg pendidikan merupakan hak warga negara.

” Revolusi mental/ pendidikan karakter yang digaungkan presiden sampai saat ini hanya omong kosong dan ini dapat kita lihat dari makin rusaknya moral anak bangsa di negeri kita “. Lanjut Syarifah.

Sebagai mahasiswa, Syarifah menegaskan sudah menjadi tugasnya mengkritik kebijakan dan mengontrol jalannya pemerintahan.

” Tugas utama kami bukan pencari solusi, itu sudah ad tanggung jawabnya masing-masing terutama Pemerintah harus kompeten mencari solusi untuk bangsa ini,
Kalau pun ada solusi dari kami, itu hanya bonus, pemerintah jangan _baper_ ,harus paham dgn tugas dan fungsi kami sebagai mahasiswa “. Tutupnya. (Azmi/red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *