Daerah

Wujudkan Kota Layak Anak, LPA NTB Inisiasi Gerakan Jam Main Kita

By  | 

Kata Ketua Lembaga Perlindungan Anak NTB Sahan, SA

NTB TIMES.COM – Kecenderungan generasi muda terutama anak- anak yang kian ketergantungan terhadap gawai membuat Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB meluncurkan gerakan Jam Main Kita. Rencananya gerakan ini akan diinisiasi pada puncak peringatan Hari Anak Nasional (Hani ) 2019 pada 18 Juli mendatang.

Alasan lain diluncurkannya gerakan tersebut sebagai upaya membangkitkan kembali permainan tradisional anak yang sudah mulai punah. Anak – anak saat ini cenderung lebih suka berdiam diri di dalam ruangan sambil bermain gawai. ‘’Karena kodratnya anak- anak adalah bermain. Tidak hanya mengeluarkan energi di jarinya saja tapi seluruh tubuhnya juga,’’ Kata Ketua Lembaga Perlindungan Anak NTB Sahan, SA, Rabu (10/07/19) di Mataram.

Adanya Jam Main Kita ini juga mendorong anak- anak kembali bergaul dan bermain dengan teman sebayanya. Sehingga bisa terjalin keakraban serta kedekatan. Anak- anak akan diajak untuk bermain berbagai permainan tradisional yang belum pernah dimainkan sebelumnya,‘’Sekarang banyak anak- anak tidak tahu menahu permainan tradisional seperti patok lele, selodor dan lainnya,’’ imbuh Sahan.

Gerakan Jam Main Kita ini sebelumnya telah diluncurkan oleh LPAI bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI pada puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional pada tahun 2018 lalu di Istana Negara. Di NTB sendiri, gerakan ini akan dijadikan pilot project sekaligus sebagai agenda tahunan,‘’Ini kita lakukan sebagai motivasi buat anak, orang tua dan keluarga. Bagaimana membangkitkan anak agar tidak terjerumus untuk berbuat hal yang tidak diinginkan. Tidak bermain hp dan elektronik saja, karena itu membahayakan kalau terlalu intens. Bisa jadi jiwa anak akan terganggu. Sehingga gerakan ini mau kita budayakan,’’ jelas Sahan.

Selain memberikan kesempatan bagi anak- anak untuk bermain bersama. Gerakan ini juga sebagai gagasan produktif dalam mendukung program pemerintah dalam mewujudkan kabupaten/kota layak anak untuk NTB gemilang. Dimana kabupaten/kota layak anak ini ada dalam misi keenam gubernur dan wakil gubernur NTB yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) NTB tahun 2019- 2023 yakni gemilang pembangunan sosial budaya.

Kriteria kabupaten/ kota layak anak sendiri adalah yang ramah dan memenuhi hak – hak anak seperti adanya tempat bermain untuk anak- anak, ruang terbuka hijau, pelayanan kesehatan dan Pendidikan yang mudah diakses. Sehingga anak- anak lebih bebas dan mudah mendapatkan hak mereka untuk menikmati masa kecil.‘’Di NTB seluruh kabupaten/kota sudah mencanangkan, memang kalau kemarin- kemarin ada yang belum berjalan, tapi sekarang sudah mulai jalan semua,’’ kata Sahan.

Kedepannya, LPA NTB berharap momentum HANI 2019 dapat menjadi wadah bagi seluruh komponen baik pemerintah maupun masyarakat untuk lebih mencintai dan menyayangi anak- anak mereka. Sehingga kekerasan terhadap anak bisa ditekan.’’ Mari kita sama- sama bertanggung jawab dalam melindungi hak anak kita, karena anak adalah masa depan bangsa,’’ tandasnya.

Pada bagian lain, saat ini angka pernikahan usia anak di NTB hampir 50 persen masih cukup tinggi dibandingkan kasus kekerasan terhadap anak yang jumlahnya mencapai 100 anak. Dimana 40 diantaranya adalah kasus anak berhadapan dengan hukum. Beberapa kasus pernikahan usia anak ini telah berhasil ditangani LPA NTB dan beberapa lainnya secara kontinyu telah dilakukan sosialisasi. Beberapa upaya yang dilakukan adalah bekerjasama dengan UNICEF membuat kelompok pembinaan melalui lingkar remaja, memberikan pelatihan pendewasaan usia perkawinan dan membentuk kabupaten awig- awig sesuai Peraturan Desa (Perdes). (ARS/R2/Sumber: ntbprov.go.id)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *