Gaya Hidup

Rendahnya Konsumsi Susu Orang Indonesia

By  | 

NTB Times. Ada alasan mengapa susu telah dianggap sebagai salah satu bahan makanan yang penting di dunia. Tidak hanya keberadaan susu ikut berimbas pada keberadaan berbagai jenis makanan dan minuman dari berbagai wilayah di dunia, susu juga memiliki peran yang penting bagi tubuh manusia. Tak bisa dimungkiri, susu adalah minuman dengan kandungan nutrisi yang sangat penting bagi manusia. Tak heran, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) sampai mencanangkan hari susu — yang jatuh setiap tanggal 1 Juni — untuk mengingatkan lagi masyarakat dunia tentang pentingnya konsumsi susu. Sayangnya, perayaan atas susu yang dikampanyekan FAO seperti tidak sampai di Indonesia.

Faktanya, tingkat konsumsi susu di negara ini termasuk yang paling rendah di Asia Pasifik. Bahkan dibanding negara-negara ASEAN lain saja, tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia adalah yang paling rendah. Data Badan Pusat Statistik tahun 2017 menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia hanya mengonsumsi 16,62 kg susu per kapita per tahun. Sebagai pembanding, di tahun yang sama, tingkat konsumsi susu Filipina adalah 17,8 kg/kapita/tahun; Thailand 22,2 kg/kapita/tahun; Myanmar 26,7 kg/kapita/tahun; dan Malaysia 36,2 kg/kapita/tahun.

Walau demikian, konsumsi susu masyarakat Indonesia sebenarnya meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2000, tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia hanya berada di angka 6,4 kg per kapita per tahun, lalu pada 2005, angka itu meningkat menjadi 9,3 kg/kapita/tahun. Lima tahun kemudian pada 2010, angka konsumsi susu orang Indonesia meningkat menjadi 13,2 kg/kapita/tahun; lalu pada 2012 menjadi 14,6 kg/kapita/tahun. Pada 2014, jumlah konsumsi susu menurun sedikit menjadi 13,2 kg/kapita/tahun, namun pada 2016, konsumsi susu di Indonesia meningkat lagi menjadi 16,5 kg/kapita/tahun.

Kenaikan tingkat konsumsi susu tersebut senada dengan pernyataan FAO dalam laporannya: “…konsumsi per kapita meningkat secara signifikan di beberapa negara dengan jumlah penduduk tinggi seperti Cina, Indonesia, dan Vietnam.” Meski begitu, tetap saja, tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia tidak cukup tinggi.

Masih dalam laporan yang sama, FAO menyampaikan: “Rata-rata konsumsi susu global per kapita mencapai sekitar 100 kg susu per tahun, dengan selisih yang sangat signifikan antara negara-negara/wilayah-wilayah. Konsumsi per kapita di Eropa Barat lebih dari 300 kg susu per tahun dibandingkan beberapa negara Afrika dan Asia yang kurang dari 30 kg (dan beberapa malah sekitar 10 kg).” Menurut standar FAO, tingkat konsumsi susu di bawah 30 kg per kapita per tahun adalah Rendah; Menengah adalah 30-150 kg/kapita/tahun, dan Tinggi adalah lebih dari 150 kg/kapita/tahun.

Beberapa faktor memengaruhi rendahnya tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia. Salah satunya adalah anggapan bahwa susu adalah minuman bayi dan anak-anak. Tentu saja ini anggapan yang keliru karena susu mengandung gizi yang lengkap. Vitamin, mineral, dan protein yang terkandung dalam susu bermanfaat untuk tubuh manusia, tak peduli berapa usianya.

Faktor lain yang membuat tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia rendah adalah dorongan yang keliru sejak awal. Roslina Verauli, psikolog anak dan remaja dari RSPI yang pada Maret tahun lalu menjadi pembicara dalam sebuah diskusi, berpendapat bahwa “kebanyakan orang tua mengharuskan anak-anaknya minum susu sebagai minuman kesehatan. Hasilnya, banyak anak merasa minum susu adalah pengalaman yang tidak menyenangkan, dan mereka akan berhenti minum susu begitu mereka bisa. Banyak anak berpikir minum susu adalah fase yang akan mereka lewati. Ujar roslina”

Agar Indonesia mampu mencapai tingkat konsumsi susu Menengah dan Tinggi, jumlah peminum susu — terutama anak-anak — harus ditingkatkan. Dr. Jennifer Shu, dokter anak sekaligus penulis buku tentang pengasuhan anak, menawarkan beberapa cara untuk membiasakan anak minum susu secara teratur.

Pertama, mulailah dengan takaran kecil. Jennifer menyarankan 6 ons susu untuk anak usia 1-3 tahun (sebagai pembanding, balita dan orang dewasa baiknya mengonsumsi 8 ons susu). Namun sebelum anak bisa menerima susu dengan takaran sebanyak itu, cukup beri anak satu atau dua sendok susu per hari. Kuncinya adalah pembiasaan, bukan jumlah yang dikonsumsi.

Kedua, tawarkan pilihan. Salah satu alasan anak enggan minum susu adalah rasa. Dengan menawarkan susu rasa stroberi atau coklat, anak bisa lebih menerima susu dalam diet mereka.

Ketiga, buat kegiatan minum susu menyenangkan. Salah satu cara termudahnya adalah hidangkan susu dalam gelas atau bejana favorit anak. Bisa pula susu dihidangkan bukan sebagai minuman, tetapi pelengkap makanan seperti sereal.

Namun yang paling penting dalam membiasakan anak minum susu, menurut Jennifer, adalah dengan menjadi teladan untuk mereka. Jika anak-anak terbiasa melihat orang tua atau orang lain minum susu, mereka akan lebih mudah menerima dan menerapkan kebiasan minum susu. Pada akhirnya, peningkatan konsumsi susu harus dimulai dari diri sendiri dan peningkatan konsumsi susu Indonesia adalah tanggung jawab bersama.(DIK/R3/sumber : Kumparan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *