Daerah

Cakranegara Jadi Destinasi Kuliner dan Wisata Sejarah

By  | 

Sejumlah kendaraan parkir di Jalan Pejanggik, Cakranegara. Kawasan Cakranegara jadi destinasi wisata kuliner dan religi yang menjadi andalan Kota Mataram. Perlu pengawasan untuk mengantisipasi penumpukan kendaraan serta PKL di kawasan tersebut. (Suara NTB/cem)

NTB TIMES.COM – Kawasan bisnis Cakranegara (KBC) benar – benar berubah total. Sejumlah fasilitas tertata baik. Bangku berjejer rapi di bawah lampion dengan model klasik. Cahaya dari lampion memberi nuansa berbeda jika menikmati malam di sepanjang Jalan Pejanggik, Selaparang dan AA. Gde Ngurah. Masyarakat mengapresiasi dan menyebut sebagai Malioboro- nya Kota Mataram.

Cakranegara patut dijadikan sebagai destinasi kuliner dan sejarah yang dimiliki oleh Kota Mataram. Kawasan ini persis berada di bekas peninggalan kerajaan Karangasem, Bali. Bangunan Pura Mayura, Bale Kambang serta peninggalan lainnya masih berdiri kekar.

Selain menikmati wisata sejarah (religi), penamaan sebagai destinasi kuliner cukup  tepat. Sebab,  Cakranegara tidak jauh dari aktivitas puluhan pedagang yang menjajakan masakan khas Kota Mataram. Lapak dengan menu andalan ‘Ayam Taliwang’ menjadi pemantik selera makan wisatawan. Untuk berburu masakan khas Ayam Taliwang ditambah pelecing kangkung harus sabar mengantre.

Destinasi kuliner dan wisata sejarah adalah dua menu yang dapat dipadukan oleh Pemkot Mataram. Bahkan, ini akan menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Nanda, seorang urban, mengaku cukup terkejut dengan perubahan drastis dari Cakranegara. Dua tahun silam, kondisi sepanjang Jalan Pejanggik (mulai perempatan Karang Jangkong – Selaparang) gelap. Pencahayaan pun hanya berasal dari lampu toko yang menyinari aspal jalan. Pedagang menumpuk serta kendaraan parkir sembarangan. “Sekarang ini bagus. Ndak semrawut lagi,” kata dia.

Penampilan mencolok dilihat dari bangku dan lampion ala klasik. Menurut Nanda, persis seperti bangku di Jalan Malioboro, Yogyakarta. Konsep ini bagus dan tertata dengan baik. Mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta mengharapkan pemerintah menyediakan lahan parkir bagi pengendara. “Kalau bisa dibilang Cakra ini Malioboronya Mataram,” pujinya.

Dikonfirmasi terpisah, Wakil Walikota Mataram,  H. Mohan Roliskana baru – baru ini mengatakan, setelah rampungnya penataan oleh pemerintah pusat di Cakranegara, tugas berat pemkot adalah melakukan pemeliharan. Pemeliharaan butuh skenario dan sumberdaya manusia yang matang untuk melaksanakannya. Sebab, di Cakranegara banyak aspek ditangani. Salah satunya adalah pendestrian.  Semua fungsi dan aksesoris harus dirawat dengan baik.“ Dan, kita minta masyarakat membantu menjaga Cakranegara dengan baik,” tandasnya. Pemkot juga akan melakukan skenario kantong parkir dan pembagian ruang PKL. Nantinya akan dibuatkan aturan supaya KBC benar – benar tertata rapi dan tidak saling mengambil fungsi.

Persepsi masyarakat menganggap Cakranegara sebagai Malioboronya Kota Mataram perlu dijaga semangat itu. Sebab, Cakranegara adalah salah satu warisan dan wisata kota yang bisa ditawarkan ke wisatawan. Mohan mengatakan, untuk mendapatkan program dari pemerintah pusat tidak mudah. Dia butuh setengah tahun melobi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. “ Saya harus melobi setengah tahun untuk mendapatkan bantuan itu,” pungkasnya.

Mohan memahami lahan parkir jadi kendala. Salah satu solusinya dengan melakukan rekayasa jalan. Untuk menyediakan kantong parkir tidak ada lahan. Maka rekayasanya adalah parkir secara pararel.A (ARS2/Sumber:Suarantb)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *