Kesehatan

Dekan FK UI Minta Pemerintah Ungkap Hasil Uji Klorokuin pada Pasien Corona

By  | 

Ilustrasi klorokuin. Foto: Shutter Stock

NTB TIMES.COM – Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Ari Fahrial Syam, meminta Indonesia untuk memberikan laporan hasil uji klinis penggunaan klorokuin sebagai obat untuk merawat pasien virus corona COVID-19.
Menurut Ari, laporan tersebut diperlukan sebagai dasar ilmiah pemakaian klorokuin untuk pasien. Sejumlah negara pun, kata dia, telah melakukan uji klinis klorokuin sebagai obat penyakit virus corona itu.“Kita harus memberikan report. Ini harus kita lakukan seperti uji klinis, clinical trial,” kata Ari. “Kita harus bilang begitu karena ini kan WHO belum declare kalau ini memang sebagai obat.”
Penggunaan klorokuin sebagai obat perawatan pasien COVID-19 telah diumumkan pemerintah Indonesia sejak 20 Maret 2020.
Pada saat itu, Presiden Jokowi mengklaim bahwa klorokuin dapat membantu menyembuhkan pasien COVID-19. Dia juga menjelaskan bahwa pemerintah telah memesan 3 juta klorokuin dan 2 juta avigan sebagai obat untuk merawat pasien virus corona di Indonesia.
Pada awal April 2020, pemerintah juga mengatakan bahwa Indonesia telah masuk ke dalam riset gabungan WHO untuk menemukan obat COVID-19. Riset gabungan bernama Solidarity Trial ini dilakukan untuk mendapatkan bukti klinis yang lebih kuat dan valid terhadap efektivitas dan keamanan empat calon obat COVID-19, salah satunya adalah klorokuin.
Namun, hingga saat ini belum ada laporan uji klinis penggunaan klorokuin bagi pasien COVID-19 di Indonesia. Menurut Ari, ketiadaan laporan tersebut membuat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tak bisa mendeklarasikan klorokuin sebagai obat terapi COVID-19.“Nah ini juga sudah saya bilang ke teman-teman Badan POM, tolong nih juga dibuat. Kalau tidak, dokter yang susah, pasien tidak malaria kok dikasih obat anti-malaria,” kata Ari.“Kalau nggak, off-label lho. Artinya, dokter memberikan obat yang sebenarnya bukan indikasi di situ. Ini bisa jadi problem,” sambungnya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri menyatakan bahwa saat ini belum ada obat yang bisa disebut sebagai obat COVID-19. Adapun harapan untuk klorokuin bisa membantu kesembuhan bagi pasien COVID-19 tengah jadi pertanyaan di seluruh dunia seiring munculnya laporan uji klinis yang telah keluar.
Sebuah uji klinis klorokuin di Brasil, misalnya, dihentikan lebih awal setelah 11 dari 81 pasien yang diteliti meninggal pada hari ke-6 jalannya riset. Peneliti menemukan bahwa penggunaan dosis tinggi klorokuin (600 mg selama 10 hari) bagi pasien justru menimbulkan risiko gangguan irama detak jantung.“Temuan awal menunjukkan bahwa dosis klorokuin yang lebih tinggi (selama 10 hari) tidak dianjurkan untuk pengobatan COVID-19 karena potensi bahaya keamanannya,” jelas tim peneliti dalam laporan mereka yang diposting di server pra-publikasi ilmiah MedRxiv, 11 April 2020.“Hasil seperti itu memaksa kami untuk secara prematur menghentikan rekrutmen pasien ke uji coba ini.
Mengingat dorongan global yang sangat besar untuk penggunaan klorokuin untuk COVID-19, hasil seperti yang ditemukan dalam percobaan ini dapat memberikan bukti kuat untuk rekomendasi manajemen pasien COVID-19 yang diperbarui,” sambung mereka.
Hasil uji klinis klorokuin dari Brasil itu membuat Badan Pengawas Obat Uni Eropa (EMA) mengeluarkan peringatan risiko penggunaan obat tersebut pada 23 April 2020. Dalam peringatan yang mereka buat, EMA mengimbau agar dokter terus memonitor efek samping klorokuin yang diberikan ke pasien mereka.
Hal senada juga disampaikan oleh pemerintah Kanada, yang menyebut bahwa klorokuin bisa menimbulkan efek samping yang serius bagi pasien COVID 19.“Klorokuin dan hidroksiklorokuin dapat memiliki efek samping yang serius. Obat-obatan ini harus digunakan hanya di bawah pengawasan dokter,” kata Badan Kesehatan Masyarakat Kanada, dilansir AFP, Sabtu (25/4).(ARS2/Sumber: Kumparan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *