Daerah

MotoGP Mandalika Kunci Bangkitnya Pariwisata Indonesia

By  | 

Sirkuit Mandalika Nusa Tenggara Barat Foto: Ist

NTB TIMES.COM – Perhelatan MotoGP Mandalika pada 2021 digadang-gadang menjadi daya tarik baru yang diprediksi mampu membangkitkan Pariwisata Indonesia setelah dihantam pandemi Covid-19. Chief Strategic Communication Officer Mandalika Grand Prix Association (MGPA) Happy Harinto mengatakan balapan MotoGP di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika dipastikan sesuai jadwal tanpa adanya penundaan, apalagi pembatalan.

MGPA sebagai penanggungjawab pembangunan sirkuit dan urusan teknis balapan memastikan tetap dan terus mengawal baik pekerjaan fisik maupun nonfisik, mengingat sirkuit di KEK Mandalika menjadi satu-satunya street race circuit cluster di dunia. Terbaru, melansir dari situs resmi MotoGP, GP Indonesia bertempat di sirkuit Mandalika rencananya akan digelar pada seri ke-15, setelah seri Malaysia dan Thailand. Meski begitu, tidak tertera waktu pelaksanaan balapan tersebut.

Selain itu tiket untuk menonton gelaran balap motor paling bergensi di dunia itu masih belum tersedia, tetapi hanya disediakan kolom untuk mengisi alamat email. Kemungkinan, jika tiket telah tersedia dan bisa dibeli, calon pengunjung akan dikabarkan melalui alamat email tersebut.

Pembangunan Sirkuit Mandalika akan menelan dana Rp 3,6 triliun. Kawasan wisata dan berbagai fasilitas pun dipersiapkan untuk mendukung gelaran MotoGP ini seperti hotel, convention centre, dan retail centre.

Untuk pembangunan yang memakan biaya super besar itu, tahun ini ITDC selaku Badan Usaha Milik Negara (BUMN) selaku pemegang otoritas pengelolaan KEK Mandalika telah mendapatkan tambahan modal yang berasal dari Penyertaan modal negara (PMN) sebesar 500 miliar yang tertuang dalam Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) akibat Covid-19.

Direktur Utama ITDC Abdulbar M Mansoer mengatakan, suntikan dana Rp500 miliar tersebut akan digunakan untuk penyelesaian proyek Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Dana tersebut nantinya akan difokuskan untuk pembangunan infrastruktur dasar dan fasilitas penunjang di KEK Mandalika pembangunan drainase sebesar Rp 7,1 miliar, kemudian untuk pekerjaan tanah dengan anggaran sebesar Rp 28,7 miliar.

Selain itu, PMN juga akan digunakan untuk Perkerasan non aspal dengan anggaran sebesar Rp 45,8 miliar. Selanjutnya ada pekerjaan pengerasan aspal yang menelan anggaran Rp 314,21 miliar, sedangkan untuk struktur Rp 99,5 miliar. Lalu yang terakhir adalah pengembalian kondisi dan pekerjaan minor Rp 4,4 miliar.

Selain penambahan modal dari PMN untuk pengembangan KEK Mandalika, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyatakan bahwa ITDC memperoleh pinjaman sebesar 248 juta dolar AS atau sekitar Rp 3,47 triliun dari Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) dengan tenor jangka panjang, yakni 35 tahun.

Lalu bagaimana gambaran biaya penyelenggaraan untuk satu event MotoGP?MotoGP adalah event olahraga otomotif yang identik dengan kata “mahal” dan saat ini merupakan event balap motor utama di dunia.

Untuk diketahui, MotoGP dikelola oleh Dorna Sports sejak 1992, sebagai pemilik penuh semua hak komersial dan penyiaran event tersebut. Kontrak penyelenggaraan MotoGP dalam setiap seri besarannya fluktuatif tergantung pada banyak hal yang membuat balapan sukses atau tidak di sebuah negara.

Selalu ada peluang untuk dilakukannya negosiasi ulang terkait besaran biaya penyelenggaraan per seri. Biasanya besaran angkanya berkisar sekitar 9 hingga 14 juta euro per satu seri penyelenggaraan Grand Prix.

Sirkuit-sirkuit penyelenggara umumnya menjalin kontrak dengan Dorna antara dua sampai 15 tahun. Jika benar angka penyelenggaran per seri MotoGP menelan biaya 9-14 Juta Euro, maka MotoGP Indonesia di sirkuit Mandalika setidaknya memerlukan sekitar 217 miliar untuk setiap seri.

Selain event/promotional fee, pihak penyelenggara (tuan rumah) juga harus menyediakan sejumlah fasilitas kepada tim-tim maupun untuk kepentingan balapan itu sendiri, seperti aspek keamanan, safety car, medis, truk kontainer pengangkut logistik tim, dan sebagainya. Karena setiap negara (tuan rumah) memiliki kalkulasi masing-masing, maka ongkos penyelenggaraan satu GP dengan GP yang lain pun tidak sama.

Dari keuntungan yang didapatkan oleh dorna sebagai penyelenggara resmi gelaran MotoGP, selain dari event fee, mereka juga mendapatkan pemasukan dari sponsor, merchandising, dan lain-lain. Hingga Penyelenggaran MotoGP tahun 2020, baru terdapat dua negara Asean yang terdaftar sebagai lokasi balapan yakni Malaysia dengan Sepang International Sircuit yang yang telah menyelenggarakan MotoGP sejak tahun 1990 dan Thailand dengan Buriram International Sircuit yang mulai menyelenggarakan MotoGP sejak tahun 2018 lalu.

Apa keuntungan menjadi tuan rumah MotoGP?Angka sebesar itu tentu tidaklah kecil. Namun, menurut advisor Sirkuit Sentul, Irawan Sucahyono, benefit yang bisa diambil dari menghajat MotoGP sangat besar dan memiliki dampak jangka (menengah dan) panjang.

Disebutkan MotoGP merupakan sebuah alat untuk mencapai pasar global internasional, karena digelar oleh belasan negara dari empat benua, sebanyak 18 kali (seri), berlangsung selama sembilan bulan.

MotoGP adalah brand tertinggi untuk sebuah motor sport, sebuah kunci global, gaya hidup (life style), serta sport dan entertainment, serta merupakan tontonan olahraga yang “menggetarkan”, penuh aksi, dan seru. Kata kunci dari nilai dan esesi MotoGP adalah technology, dynamism, passion, youth, innovation, dan speed.

Sebagai sebuah tontotan yang akan menjadi “mata dan telinga” ke dunia internasional, setiap seri MotoGP menggunakan lebih dari 100 kamera, dengan jumlah kru 150 orang, mulai dari badan sepeda motor, paddock, sampai yang dibawa dengan helikopter, untuk memastikan peliputan (coverage) yang paling komprehensif dan konsisten.

Di musim 2015, program internasional MotoGP didistribusikan ke 65 stasiun televisi di seluruh dunia – Trans 7 adalah satu-satunya dari Indonesia. Penayangan program-program itu berdurasi total 17.123 jam, dan 59 persen di antaranya bersifat siaran langsung (live).

Terkait penyiaran, Dorna mencatat, siaran MotoGP diterima di 207 negara, dengan jumlah audiens mencapai 291 juta (hanya yang menonton di rumah). Profil audiens siaran MotoGP adalah 70 persen berusia di bawah 35 tahun, dan rata-rata mereka sudah mengikuti MotoGP selama 11 tahun.

Dorna mencatat, gelaran MotoGP 2014 mengeluarkan akreditasi kepada 8.316 perwakilan media (pers) di seluruh dunia, dengan rata-rata 469 jurnalis per seri grand prix, baik media cetak, TV, radio, online, dan juru kamera/foto.Di musim 2014, total penonton MotoGP sepanjang musim berjumlah 2.473.624. Artinya, per hari balapan, penonton yang mendatangi sirkuit rata-rata 137.423 orang.

Benefit lain ditawarkan sebuah MotoGP kepada tuan rumah adalah kekuatan kampanye mereka lewat saluran-saluran media lain, seperti website, twitter, Facebook, Instagram, dan channel Youtube.

Situs motogp.com, misalnya, di musim 2014 dikunjungi lebih dari 92 juta visitor, meraih 10 juta unique visitor, tersaji dalam 7 bahasa, memiliki lebih dari satu juta pengguna yang teregistrasi, dan 152 juta pageview. Sedangkan dari akun Youtube mereka, total video views yang diraih adalah lebih dari 310 juta.

Gelaran MotoGP bukan hanya tentang balap motor saja, melainkan bisa menjadi branding atau promosi negara penyelenggara, seperti untuk pariwisata, mendatangkan calon investor, dan lain-lain. Secara garis besar, dengan menjadi tuan rumah event sebesar MotoGP, maka negara penyelenggara akan mendapat ruang expossure internasional yang sangat besar.

Walaupun penyelenggaraan balapan di sebuah negara hanya satu kali dalam satu tahun, tapi MotoGP itu sendiri berlangsung selama sembilan bulan. Artinya, ekspos kepada setiap tuan rumah pun akan kontinyu sepanjang musim.

Pada gelaran MotoGP di Malaysia tahun 2019 yang lalu, Tourism Malaysia sebagai Badan Pariwisata di Negara tersebut turut memberikan sumbangsihnya dengan menyelenggarakan acara meet and great antara penggemar dengan para raider MotoGP. Mereka turut mengambil peran lantaran MotoGP adalah event balap motor terpopuler dengan potensi kedatangan penonton bukan hanya dari dalam negeri, tetapi dari seluruh dunia.

Tourism Malaysia bekerja sama dengan pengelola Sepang International Circuit dengan menjadikan MotoGP sebagai bagian dari Kalender kegiatan Visit Malaysia 2020 (VM2020). Selanjutnya, Tourism Malaysia bekerja sama dengan Agen Tour Internasional untuk mempromosikan gelaran MotoGP  dan juga menjual paket wisata dengan total 5,467 Paket Wisata MotoGP dengan nilai Penjualan RM4.72 juta atau sekitar Rp 14 Miliar lebih dalam satu kali gelaran MotoGP di negara tersebut.

Secara keseluruhan, total pengunjung pada gelaran MotoGP di seluruh dunia berjumlah 2.863.113 orang, dengan pengunjung tertinggi yakni di MotoGP Thailand dengan total pengunjung sebanyak 226.655 orang. Pada MotoGP Malaysia sendiri, pada tahun 2019 mencatatkan kedatangan pengunjung selama 3 hari gelaran MotoGP di negara tersebut sebanyak 170.778 orang, meningkat 951 orang daripada tahun sebelumnya.

MotoGP adalah platform yang bagus untuk menampilkan Malaysia kepada khalayak luas seperti yang terlihat di lebih dari 290 juta rumah di 59 negara, dengan ratusan juta tampilan halaman online dan jutaan pengikut di media sosial. Sementara itu, untuk penyelenggaraan MotoGP Mandalika pada tahun 2021 yang akan datang, ITDC selaku pengelola KEK Mandalika menyebutkan bahwa target penonton  sebanyak 300.000 orang.

Selain potensi bisnis yang begitu besar, menjadi tuan rumah gelaran MotoGP juga bisa meningkatkan kebutuhan tenaga kerja. Untuk Gelaran MotoGP Mandalika, dan kebutuhan pekerja di KEK Mandalika  secara keseluruhan berjumlah sekitar 30.000 ribu orang.

Sejauh ini, kendala yang dihadapi dalam pembangunan MotoGP mandalika adalah masih adanya konflik lahan antara warga setempat dengan ITDC selaku pengembang kawasan. Konflik tersebut didasarkan pada adanya warga yang mengaku lahannya belum dibayar, sehingga mengakibatkan mereka tidak mau meninggalkan lokasi tersebut meski saat ini pembangunan sirkuit mandalika tengah terus digencarkan.

Selain permasalahan lahan, ketersediaan kamar di pulau Lombok untuk mengakomodir penonton MotoGP masih sangat kurang. Berdasar keterangan Ketua Kehormatan PHRI NTB saat ini total tersedia sekitar 16.000 kamar.

Sementara jika mengacu pada target penonton yang disebutkan oleh ITDC, maka masih dibutuhkan 250 ribu kamar hotel untuk bisa mengakomodir keseluruhan penonton. Anggap saja jika realisasi kehadiran penonton nantinya sebanyak 150 ribu orang, setengah dari total keseluruhan, itupun ketersedian kamar masih kurang sebanyak 125 ribu kamar.

Bagaimana cara MotoGP Mandalika menjadi momentum kebangkitan Pariwisata Indonesia?

Hal yang pertama yang harus dilakukan adalah menjadikan MotoGP Mandalika sebagai sebuah event yang inklusif tidak eksklusif, artinya, Event MotoGP bukan hanya milik ITDC saja, atau milik kalangan atas saja, tetapi milik seluruh rakyat Indonesia, memberikan ruang yang luas untuk keterlibatan semua komponen masyarakat di dalam menyukseskannya.

Kedua, demi memuluskan segala sesuatu menyangkut persiapan destinasi wisata ataupun pembangunan sirkuit serta sarana penunjang di daerah penyangga sekitar KEK Mandalika agar selesai tepat waktu. Pemerintah melalui kementerian dan kelembagaan terkait harus terus melakukan pengawasan melekat secara langsung di lapangan, sehingga apa pun kendala yang muncul bisa diselesaikan secara cepat. Hal ini bisa dimulai misalnya dengan dibentuknya MotoGP Tourism Command Centre  yang merupakan kesekretaritan bersama yang terdiri atas perwakilan dari Kemenparekraf, ITDC , Pemprov NTB, dan Pemkab Lombok Tengah.

Ketiga, gelaran MotoGP Mandalika diharapkan mampu menunjukkan kepada dunia internasional tentang bagaimana penerapan dari protokol destinasi new normal dilakukan secara menyeluruh, tertib dan konsisten. Sehingga kepercayaan wisatawan mancanegara ataupun Nusantara akan tumbuh semakin kuat. Nantinya mereka tidak khawatir lagi berkunjung ataupun berlibur ke destinasi–destinasi wisata di seluruh Indonesia.

Suksesnya MotoGP Mandalika ditandai dengan manfaat yang dihasilkan dari event ini tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang saja, melainkan oleh seluruh elemen masyarakat, khususnya masyarakat lokal yang selama ini merindukan peningkatan kesejahteraan seiring dengan gencarnya pembangunan di KEK Mandalika, dan jika ini terlaksana, maka pemulihan pariwisata akan menjadi lebih cepat, dan Indonesia kembali bangkit untuk mempesona dunia.(ARS2/Sumber: ROL)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *