Religi

10 Tahun Dengar Alquran, Katrin Akhirnya Jadi Mualaf

By  | 

10 Tahun dengar Alquran, Katrin Akhirnya Jadi Mualaf. Foto: Mualaf (Ilustrasi)
Foto: Onislam.net

NTB TIMES.COM – Perjalanan seorang insan menuju Tuhannya berbeda-beda. Bagi Katrin, mualaf asal Jerman, awalnya adalah ketertarikan pada bacaan Alquran. Padahal, sebelumnya dia merasa biasa saja mendengar itu dari pelantang masjid.

Saat itu bulan Ramadhan dan Katrin belum memeluk Islam. Dia bercerita kepada laman About Islam bahwa dia sudah terbiasa mendengar pengajian selama sholat tarawih setiap malam. Sudah sekitar 10 tahun sampai waktu tersebut, dia tinggal dekat masjid.

Suara yang datang dari masjid awalnya tidak memengaruhi Katrin, yang bekerja di universitas dengan yang berbasis sebuah agama Non-Muslim. Dia dan suaminya yang juga bukan penganut agama Islam pun pernah tinggal di negara mayoritas Muslim, tak ada getaran yang terasa.

Katrin terus saja mendengarkan pembacaan Alquran, bahkan setelah Ramadhan berakhir. Lambat laun dia merasa Alquran memberikan kedamaian dan kepuasan bagi jiwanya. Dia tidak mengerti sepatah katapun, tapi kata-kata itu menenangkan pikirannya.

Sampai pada suatu malam yang tenang, dorongan untuk terhubung dengan bacaan Alquran yang indah menjadi sangat kuat. Dia ingin menjadi bagian dari orang-orang yang membaca dan mendengarkan Alquran. Katrin ingin kitab suci itu mengisi hidupnya.”Dalam kesunyian malam, Allah membuka hati saya kepada-Nya. Saya duduk di lantai. Sendirian. Sendirian dengan Allah. Satu lawan satu dengan Allah. Dan melafalkan syahadat saya. Saya tidak memberi tahu siapapun selama dua tahun,” ungkapnya.

Alasannya, Katrin takut hubungan barunya dengan Allah akan rusak dan ternoda oleh perkataan atau penilaian orang lain. Dia ingin relasi tersebut bertumbuh, menjadi kuat, menjadi begitu intens, sehingga tidak ada apapun yang bisa mengganggunya.

Dia berdoa secara diam-diam, belajar Alquran diam-diam di internet, mempelajari agama barunya lewat bacaan. Setelah dua tahun, Katrin merasa bahwa hubungannya dengan Allah tidak tergoyahkan, seakan penuh dengan cahaya-Nya.

Ketika itulah dia memutuskan untuk mulai belajar tentang Islam dengan seorang ustaz di sebuah sekolah agama. Setiap Sabtu dan Ahad, dia pergi menemui sang ustaz, belajar buku-buku agama tradisional, mempelajari dasar-dasar Islam.

Beberapa hal yang dia pelajari adalah bersuci sebelum sholat, tata cara menghadap Allah dalam ibadah, juga cara memperlakukan gurunya serta orang lain. Sayangnya, semua tekad Katrin tidak sejalan dengan sang suami.

Suami Katrin tidak ingin memeluk Islam. Katrin sudah berusaha meyakinkannya, bahkan lewat sesi konseling. Namun, sang suami tidak mau menerima Islam. Akhirnya Katrin meminta cerai dan pindah ke sekolah agama.(ARS2/Sumber: ROL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *